BISMILLAHI AR-RAHMANI AR-RAHIM
Umar
Khayyan dilahirkan di Nisyapur, Iran. [18 Mei 1048 - 4 Desember 1131]. Nama
lengkapnya adalah Ghiyatsuddin Abdul Fatah Umar bin Ibrahim Khayyami
an-Nisyaburi. Khayyam berarti ''Pembuat Tenda'' dalam bahasa Persia. Pada masa
hidupnya, ia terkenal sebagai ahli matematika dan astronom yang memperhitungkan
bagaimana mengoreksi kelender Persia.
Pada
15 Maret 1079, Sultan Jalaluddin Malik Syah Seljuki [1072-1092 M] memberlakukan
kalender yang telah diperbaiki Umar, yakni kalender Jalali yang di pakai bangsa
Iran sampai abad ke-20, seperti yang dilakukan oleh Julius Caesar di Eropa pada
tahun 46 Sebelum Masehi dengan koreksi terhadap Sosigenes. Beliau juga terkenal
karena menemukan metode memecahkan persamaan kubik dengan memotong sebuah
parabola dengan sebuah lingkaran. Umar Khayyam wafat pada tahun 1131 Masehi
dalam usia 83 tahun dan di makamkan di Nisyabur. Umar Khayyam mewariskan karya
ilmiah dan sastra yang sangat berpengaruh di dunia. Beliau tidak hanya terkenal
karena keberhasilan ilmiahnya, tetapi karena karya-karya sastranya. Ia diyakini
telah menulis sekitar seribu puisi 400 baris. Di Dunia Barat, beliau lebih di
kenal lewat ''The Rubaiyat of Omar Khayyam'' dalam terjemahan bahasa Inggris
oleh Edward Fitz Gerald, 1809-1883 M. Orang lain juga telah menerbitkan
terjemahan-terjemahan sebagian dari rubaiyatnya [kuatrin], tetapi terjemahan
Fitz Gerald-lah yang paling terkenal. Banyak pula terjemahan karya ini dalam
bahasa lain.
Kabar
terakhir yang menarik mengenai Umar Khayyam adalah peresmian sebuah patung oleh
Universidad Coplutense de Madrid guna memperingati Umar Khayyam. Salah satu
Universitas tertua di Madrid, Spanyol. Universitas ini telah menetapkan tanggal
8 Mei, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Umar Khayyam.
PEMIKIRAN
UMAR KHAYYAM
Peristiwa
politik abad ke-11 memainkan peran utama dalam perjalanan hidup Umar Khayyam.
Orang-orang Turki Seljuk adalah suku yang menginvasi barat daya Asia di abad
ke-11 dan akhirnya mendirikan sebuah kerajaan yang mencakup Mesopotamia,
Suriah, Palestina dan sebagian dari Iran. Seljuk menduduki dasar penggembalaan
Khorasan dan kemudian antara 1038 dan 1040 Masehi, mereka menaklukkan seluruh
timur laut Iran. Penguasa Seljuk -Toghril Beg- menyatakan dirinya adalah Sultan
Nisyapur di tahun 1038 Masehi dan telah memasuki Baghdad pada tahun 1055
Masehi. Saat itu, di kerajaan ini kondisi militernya sulit dan tidak stabil,
yang juga memiliki masalah agama karena berusaha untuk mendirikan sebuah negara
Muslim Ortodoks. Saat itulah Umar Khayyam berada dalam masa pertumbuhan. Umar
Khayyam belajar filsafat di Nisyapur dan salah seorang teman-temannya menulis
bahwa dia ''... diberkahi dengan ketajaman akal dan kekuatan alam tertinggi''.
UMAR
KHAYYAM SANG TOKOH SUFI
Umar
Khayyam adalah seorang filsuf, ilmuwan dan pelatih penting dalam sufisme.
Namanya terkenal di dalam literatur Eropa, terutama karena Edward Fitz Gerald,
yang di zaman Victoria telah mempublikasikan beberapa kuatrin Khayyam dalam
bahasa Inggris. Edward Fitz Gerald -seperti banyak para sarjana Timur lain- telah
membayangkan bahwa karena Umar Khayyam pada masanya berbicara tentang
pandangan-pandangan yang bertentangan secara luas. Ia sendiri adalah korban
beberapa perubahan pemikiran. Karya-karya Umar Khayyam semakin di kenal, ketika
syair-syair [kuatrin] Umar, putera Ibrahim Sang Pembuat Kemah ini, telah
diterjemahkan hampir dalam setiap bahasa dunia. Sulit di percaya, apabila dalam
kehidupannya ia dianggap sebagai penganut aliran Assassin [sekelompok pembunuh
bermotif politik], teman Nizham sang Wazir Agung, sebagai anggota istana yang
merupakan penggemar makanan serta minuman, oleh sebab berbagai terjemahan yang
keliru. Sudah menjadi anggapan umum bahwa Rubaiyat terjemahan Fitz Gerald lebih
merepresentasikan penyair Irlandia dibandingkan Persia. Namun ini sebenarnya
merupakan penilaian dangkal, karena Khayyam sebenarnya tidak merepresentasikan
dirinya sendiri, sebagai sebuah mazhab filsuf sufi. Kita tidak hanya perlu
mengetahui apa yang sebenarnya dikatakan Khayyam, namun kita juga perlu
mengetahui apa maksud perkataannya. Dalam pembauran berbagai gagasan dari
beberapa penyair sufi dan mengangkat nama Khayyam, Fitz Gerald tanpa disadari
telah menggaris bawahi pengaruh Sufi dalam kesustraan Inggris.
Hal
ini bisa diamati melalui terjemahan Fitz Gerald dalam syair [kuatrin] 55. Ia
memaksakan bahwa Umar secara khusus menentang para sufi:
Buah
Anggur,
mengandung
sebuah serat;
Laksana
urat melekat di Tubuhku,
biarlah
sang Sufi mencela;
Tentang
Logam Dasarku yang mungkin menyimpan sebuah Kunci,
Kunci
pembuka
Pintu
yang diratanya dari luar.
Ini
mengandung arti serta memberi kesan bahwa Khayyam menentang sang sufi. Dan
bahwa apa yang di cari sang sufi dapat ditemukan dalam metode Khayyam, bukan
[penemuan] dirinya sendiri.
Bagi
pengamat biasa mana pun, puisi ini jelas menunjukkan ketidak mungkinan bahwa
Khayyam adalah seorang sufi. Para sufi percaya bahwa dalam diri manusia ada
suatu unsur yang disemangati cinta, yang membukakan makna pencapaian realitas
sejati dan di sebut makna mistikal. Apabila kita kembali pada puisi orisinal
dari terjemahan syair [kuatrin] 55 ini untuk mengamati tentang pencelaan sufi
atau sebaliknya, maka maksud dari syair tersebut apabila diterjemahkan ke dalam
bahasa Persia, adalah:
Ketika
Sebab Azali menentukan wujudku
Aku
dianugerahi ajaran utama tentang Cinta.
Dan
terbentuklah belahan hatiku
Kunci
Perbendaharaan Mutiara dari makna mistikal.
Di
sini tidak ada kata-kata sufi, pintu meratap, mencela. Namun kata-kata yang
digunakan adalah istilah-istilah teknis sufi.
Meskipun
telah diakui secara umum bahwa Umar Khayyam adalah seorang penyair yang tidak
mendapat penghargaan di negerinya sendiri sampai diperkenalkan kembali melalui
apresiasi terjemahan Fitz Gerald di Barat, ini pun tidak sepenuhnya akurat.
Adalah benar bahwa Khayyam tidak memperoleh penghargaan seuniversal Sana'i
Aththar, Sa'di, Hafizh, Rumi dan penyair sufi lainnya. Pekerjaan mengumpulkan
syair-syair yang disampaikan atas namanya memang berbeda. Masih diragukan bahwa
orang meneliti apakah ada di antara para sufi yang memperhatikan Khayyam. Harus
diakui, meskipun telah ada penyelidikan, hanya sebagian kecil di antara mereka
yang telah peduli untuk membahas masalah ini sebagai pengamat.
Tugas
berat dengan seksama telah dicurahkan untuk meneliti orisinalitas dan kemurnian
syair-syair dari berbagai koleksi karya Umar. Dari sudut padang sufi, karena
Khayyam bukanlah guru dari sebuah mazhab mistik melainkan ia adalah seorang
guru mandiri, maka masalah itu kehilangan kaitan. Para peneliti telah
menunjukkan minat terhadap kemungkinan pengaruh penyair buta Abu Ali al-Ma'ari
atas diri Umar. Di dalam Luzum yang di tulis segenerasi sebelum Umar Khayyam,
al-Ma'ari telah mempublikasikan berbagai puisi yang tampaknya mengingatkan pada
karya puitis Khayyam.
Al-Ma'ari
telah menulis puisi yang senada dengan puisi Khayyam, demikian sebaliknya,
sebagaimana akan dÃkatakan seorang sufi, karena mereka berdua menulis dari
sudut pandang mazhab yang sama. Khayyam mungkin telah menyitir al-Ma'ari,
laksana dua perenang saling meniru ketika mereka berenang bersama, mempelajari
baik secara terpisah atau bersama-sama dari sumber yang sama. Hal ini
menimbulkan kebuntuan ketika beberapa pengamat sastra meneliti satu segi karya,
sementara pengamat mistik lain terlibat dan terpengaruh dalam konteks tertentu.
Khayyam
adalah suara sang sufi dan bagi sufi, suara itu abadi. Puisi tidak akan terikat
begitu saja pada teori pemusatan waktu. Memang benar bahwa Khayyam diperhatikan
kembali di Persia karena popularitas terjemahan tersebut, jika kita setuju
menafsirkan ''Khayyam tidak di kenal di kalangan non-sufi sampai akhir-akhir
ini di Persia. Namun melalui berbagai upaya para Sarjana Barat, karyanya telah
di kenal luas di luar kalangan sufi di Persia''.
Profesor
Cowell yang telah memperkenalkan Khayyam kepada Fitz Gerald dan menganggapnya
sebagai orang Persia, menemukan kandungan Sufistik dalam karya Khayyam setelah
berdiskusinya dengan sarjana-sarjana India asal Persia. Beberapa sarjana
menyimpulkan bahwa mereka ini telah menyesatkan si Profesor. Beberapa pakar
Barat tidak mengungkapkan kandungan sufi dalam karya Khayyam. Sementara Pendeta
Dr. T.H. Weir, seorang ahli sastra Arab [Khayyam menulis karyanya dalam bahasa
Persia], menulis sebuah buku tentang Umar Khayyam yang didalamnya menyatakan
dengan sangat jelas persoalan ini. ''Yang benar adalah,'' katanya [dalam Omar
Khayyam the Poet] ''tidak mungkin seorang [sarjana] membaca enam baris syair
Omar tanpa melihat bahwa tidak ada mistisme di dalamnya, apalagi dalam Burns''.
Namun ia tidak menjelaskan: apa jenis mistisme yang diacunya, bagaimana ia
mengidentifikasikannya.
Fitz
Gerald sendiri merasa kebingungan terhadap pribadi Khayyam. Ia kadangkala
menganggap Khayyam sebagai Sufi, namun terkadang bukan. Padahal ia sendiri
telah memahami sebagian besar pemikiran sufi. Heron Allen, sarjana yang telah
menganalisa secara sangat seksama, menunjukkan bahwa bahan-bahan yang oleh
banyak orang dianggap hasil racikan Fitz Gerald, acapkali berasal dari penyair
Persia lainnya. Para pengarang Persia ini, yaitu para Sufi: Aththar, Hafizh,
Sa'di dan Jami, adalah para penyair yang sejak Chaucer sangat berpengaruh di
kalangan penulis Inggris. Mungkin di sengaja atau kebetulan, apabila Fitz
Gerald sebenarnya telah memahami berbagai ajaran sufi dari naskah-naskah asli
bahasa Persia. Ajaran-ajaran ini begitu kuat dalam ingatannya sehingga sangat
membantu dalam menyunting Rubaiyat dalam bahasa Inggris, meski kemudian
dicampur adukkan dengan Khayyam. Andikata Fitz Gerald mengetahui teknik ajaran
tertentu yang diterapkan Khayyam - dengan mengikuti suatu garis pemikiran
sehingga mengesankan kedangkalannya - maka ia mungkin menguraikan pengaruh
ajaran Khayyam secara lebih efektif.
Fitz
Gerald juga telah keliru memahami tekanan yang diberikan Khayyam tentang
kondisi sufi yang mengalami ''Kemabukan'', sebagaimana terkandung dalam bait
berikut ini:
Aku
tak bisa hidup tanpa anggur,
Tanpa
cangkir penuh dengan anggur,
aku
tak mampu membawa tubuhku
Aku
hamba sang nafsu yang dikatakan Saki [Pemabuk]
"Minumlah
secangkir lagi"
tapi
aku tak bisa.
Bait
ini jelas mengacu pada kondisi pencapaian di bawah bimbingan guru sufi ketika
suatu pengalaman ekstase berkembang menjadi suatu persepsi nyata tentang
dimensi rahasia di balik kemabukan metaforis itu.
Karya
Khayyam versi Fitz Gerald [bahasa Inggris] tidak pernah diperbaiki lagi karena,
agar berbagai gagasan sufi bisa di kenal generasi secara luas, harus ada kadar
harmoni tertentu antara gagasan dan formulasi waktu.
Hal
ini bukan berarti bahwa setiap orang bisa melihat kandungan mistik dalam karya
Khayyam. Ia telah mengesankan Swinburne, Meredith dan banyak orang yang mencari
pola pemikiran non konvensional. Namun yang lain merasa bahwa dalam beberapa
hal, kandungan mistik itu adalah suatu ancaman bagi konvensi. Seorang pakar
theologi ternama, Dr. Hastie, tidak berusaha memahami kedalaman makna mistikal
itu dalam karya Khayyam.
Dalam
versi Fitz Gerald, Dr. Hastie hanya menemukan, ''Sosok jenaka yang bersahaja,
refleksi sangat dangkal dan syair-syair gersang serta kontras''. Fitz Gerald
sendiri telah mengkaji suatu ''segi baru tentang Khayyam'', tentang kegelisahan
''yang menyedikan, penipuan diri, kultus tidak wajar atas dirinya oleh
orang-orang fanatik''.
"Kultus"
ini merupakan "suatu kegilaan retoris dan delusi, kegandrungan dan
pemujaan semu".
Apakah
pendeta yang terhormat itu merasa terancam oleh orang yang bagaimanapun
hanyalah "sosok bijak yang agak gila, berandalan pengecut, pailit dan
pembual buta yang suka menggertak?"
Umar
Khayyam bisa jadi sering kali dipahami di Timur maupun Barat sedemikian rupa.
Yang sangat mengkhawatirkan adalah begitu banyak mahasiswa Muslim yang
berbahasa Inggris di India terlampau meminati Khayyam dari terjemahan Fitz
Gerald itu. Namun setidaknya theolog Muslim telah mengedarkan suatu peringatan.
Dalam The Explanation of Khayyam [Molvi Khanzada, Lahore, 1929], sebuah pamflet
yang beredar luas, ia telah berusaha sebisa mungkin membawa masalah itu ke
dalam perspektifnya sendiri:
Pertama
ia membuktikan, dan bukan tanpa alasan bahwa Fitz Gerald sebenarnya tidak
mengetahui bahasa Persia dengan baik.
Kedua,
ia menegaskan bahwa Cowell juga tidak tahu bahasa Persia dengan baik.
Orang
yang ingin mengkaji Khayyam, pertama kali seharusnya mempelajari bahasa Persia,
bukan bahasa Inggris. Bahkan sebelum mengkaji Khayyam, ia harus mampu memahami
dasar-dasar Islam secukupnya sebelum memasuki materi pelik seperti sufisme.
Akhirnya, Khayyam merupakan sebuah istilah generik yang diterapkan para sufi
sebagai suatu metode pengajaran, yang bila di kaji sendiri tanpa mengacu pada
kitab-kitab lain dan tanpa bimbingan seorang guru pasti akan menyesatkan.
Khayyam adalah sebuah kultus agung di Inggris. Para pemujanya telah membentuk
kelompok-kelompok, menaburi bunga Nisyabur di atas pusara Fitz Gerald, dan
meniru syair-syair. Kultus ini sangat banyak, padahal kita tahu bahwa manuskrip
tertua ditulis tiga ratus lima puluh tahun setelah kematian sang pengarang -
hampir sepepti kita tahu tentang St. John of the Cross berdasarkan sebuah
dokumen yang di tulis akhir-akhir ini dan harus mendasarkan pemahaman kita dari
dokumen itu serta sebagian kecil dokumen lainnya.
Dari
sudut pandang sufi, puisi Khayyam mempunyai berbagai mamfaat, entah dikaji
untuk menjelaskan maknanya semata, entah dibacakan dengan syarat-syarat
tertentu untuk meningkatkan taraf-taraf kesadaran, entah ''mengungkap
rahasianya'' untuk digunakan sebagai materi kajian sufi.
Itulah
sebagian warisan sufi, dan sebagaimana telah memainkan peran komprehensif,
pemahamannya sendiri merupakan pola pemikiran khas sufi.
Konon
ada seorang penyair melewati sebuah padepokan tua di Nisyabur beserta muridnya.
Sekelompok keledai masuk ke dalamnya dengan membawa batu-bata untuk perbaiki
bangunan itu. Namun salah satunya enggan melewati pintu gerbangnya. Khayyam
melihat peristiwa ini pintu gerbangnya. Khayyam melihat peristiwa ini lalu
tersenyum dan manaiki keledai itu sambil melantungkan sebuah syair secara
spontan berikut ini:
Wahai
orang yang telah pergi dari kembali,
Namamu
telah hilang di antara nama-nama lain.
Kuku-kukumu
telah berubah menjadi kuku keledai ini;
Janggutmu,
ekormu,
kini
sangat berbeda.
Keledai
pandir itu kini leluasa memasuki halaman padepokan.
Dengan
kebingungan muridnya bertanya: "Wahai orang Bijak, apa maksudnya ini?''
"Jiwa
yang kini ada di dalam keledai itu adalah jiwa dari tubuh seorang guru
dipadepokan ini. Tentu saja ia enggan masuk ke dalamnya sebagai seekor keledai.
Kemudian, dengan menunjukkan bahwa ia diakui sebagai seorang guru, maka ia pasti
masuk ke lingkungan ini''. Namun Khayyam bukan sedang [sebagaimana di kira
kalangan eksternalis] menunjukkan bahwa beberapa unsur entitas manusia dapat
masuk ke dalam tubuh makhluk hidup yang lain, dan juga tidak untuk mengambil
suatu kesempatan menandingi skolastisisme gersang dizamannya, ataupun sedang
menunjukkan bahwa ia mempengaruhi keledai dengan syair itu. Jika ia tidak
menunjukkan apa-apa dihadapan muridnya, tidak melontarkan sebuah gurauan, bukan
melakukan suatu perbuatan misterius, tidak berkhotbah tentang suatu bentuk
reinkarnasi dan menggubahnya secara esensial, lalu apa yang dilakukannya? Ia
sedang melakukan apa yang bisa dilakukan oleh guru sufi - memberikan pengaruh
kompleks demi kebaikan murid, membiarkan mereka melibatkan diri ketika menyertai
seorang guru melalui sebuah pengalaman komprehensif. Ini adalah suatu bentuk
komunikasi demonstratif yang hanya dikenal oleh mereka yang telah mengalami
pahit getir latihan sebuah mazhab sufi. Proses itu diuraikan dengan pemahaman
dalam suatu upaya menghubungkannya dengan peristiwa tunggal, bahkan peristiwa
ganda, untuk tujuan rasional, namun arti tujuan rasional ini dilepaskan. Murid
mempelajari melalui metode itu dan tidak mungkin disampaikan dengan metode lain
manapun. Mereproduksinya dengan cara tertentu, kecuali menambah sebuah
peringatan dengan mencoba menunjukkan karakter khusus. Situasi ini setidaknya
akan tampak kabur bagi kebanyakan pengamat serius.
Nama
Khayyam yang dipilih untuk dirinya - Umar Khayyam - mengungkapkan beberapa
jenis rahasia bagi Ghaqi - Sang Dermawan [Orang yang sangat suka berbuat baik],
sebuah nama yang digunakan untuk orang yang tidak peduli pada hal-hal duniawi
biasa. Hilangnya perhatian itu mencegah dirinya untuk mengembangkan persepsi
dari dimensi lain.
Salah
satu pembelaan para penyair terhadap Khayyam dalam melawan pemikir mekanis -
akademis atau emosional - mungkin masih digunakan sebagai justifikasi untuk
mencela pengkritiknya yang arogan dan para pengulas: Wahai orang yang tidak
mengerti,
Jalan
itu bukan ini dan itu!
UMAR
KHAYYAM SANG MATEMATIKAWAN
Umar
Khayyam dalam dunia matematika dan astronom menulis beberapa karya termasuk
permasalahan aritmatika, sebuah buku tentang musik dan aljabar sebelum dia
berumur 25 tahun. Pada tahun 1070 ia pindah ke Samarkand di Uzbekistan yang
merupakan salah satu kota tertua di Asia Tengah. Umar Khayyam di dukung oleh
Abu Tahir, seorang ahli hukum terkemuka dari Samarkand, dan dia diperbolehkan
untuk menulis mengenai aljabar, risalah pada Demonstrasi Permasalahan dari
aljabar.
Umar
Khayyam awalnya menulis aljabar sebelum teks aljabar terkenal. Ia
mempertimbangkan suatu masalah: Cari titik pada kuadran dari lingkaran dalam
cara sedemikian rupa sehingga ketika yang normal dijatuhkan dari titik ke salah
satu jari-jari berlari, rasio dari panjang normal dengan jari-jari sama dengan
rasio dari segmen ditentukan oleh kaki normal.
Khayyam
menunjukkan bahwa masalah ini setara untuk memecahkan masalah kedua: Cari segi
tiga siku-siku memiliki properti yang miring sama dengan jumlah dari satu kaki
di tambah dengan ketinggian di sisi miring.
Masalah
ini membimbing Khayyam untuk memecahkannya sebagai persamaan kubik x 3 + 200 x
= 20 x 2 + 2000 dan ia menemukan akar positif kubik dengan mempertimbangkan
persimpangan empat persegi panjang hiperbola dan lingkaran. Sebuah solusi
perkiraan numerik kemudian ditemukan oleh interpolasi dalam tabel trigonometri.
Bahkan yang lebih luar bisa adalah pernyataan Khayyam mengenai solusi dari
kubik ini, memerlukan penggunaan bagian berbentuk kerucut dan bahwa hal itu
tidak dapat diselesaikan oleh penguasa dan metode kompas, hasil yang tidak
terbukti selama 750 tahun. Khayyam juga menulis bahwa dia berharap untuk
memberikan gambaran penuh solusi dari persamaan kubik di penelitian
selanjutnya: Jika kesempatan muncul dan saya dapat berhasil, saya akan
memberikan semua bentuk empat belas dengan semua cabang dan kasus, dan
bagaimana untuk membedakan apa saja yang mungkin agar kertas, yang mengandung
unsur yang sangat berguna dalam seni akan disiapkan.
Khayyam
menghasilkan karya risalah pada Demonstrasi permasalahan dari aljabar yang
berisi klasifikasi lengkap dari persamaan kubik dengan solusi geometris yang
ditemukan dengan cara memotong bagian berbentuk kerucut. Bahkan Khayyam
memberikan akun sejarah yang menarik di mana ia mengklaim bahwa orang-orang
Yunani tidak meninggalkan apapun pada teori persamaan kubik, Khayyam juga
menulis, kontribusi yang diberikan oleh penulis sebelumnya seperti al-Mahani
dan al-Khazin adalah untuk menerjemahkan masalah geometris ke dalam persamaan
aljabar [sesuatu yang pada dasarnya tidak mungkin sebelum karya al-Khawarizmi].
Namun, tampaknya Khayyam adalah orang pertama yang menyusun suatu teori umum
dari persamaan kubik. Khayyam menulis: Dalam ilmu aljabar satu pertemuan
masalah tergantung pada jenis tertentu teorema awal sangat sulit, yang
solusinya tidak berhasil karena sebagian besar dari mereka yang berusaha itu.
Ada pun Lama, tidak ada pekerjaan dari mereka berurusan dengan subjek telah
turun kepada kita, mungkin setelah mencari solusi dan memiliki diperiksa
mereka, mereka tidak mampu memahami kesulitan mereka, atau mungkin penyelidikan
mereka tidak memerlukan pemeriksaan tersebut, atau akhirnya, karya mereka
tentang hal ini, jika mereka ada, belum diterjemahkan ke dalam bahasa kita.
Prestasi
lain dalam teks aljabar Khayyam adalah realisasi bahwa persamaan kubik dapat
memiliki lebih dari satu solusi. Dia menunjukkan adanya persamaan memiliki dua
solusi, tapi sayangnya dia tampaknya tidak menemukan bahwa kubik dapat memiliki
tiga solusi. Dia berharap bahwa ''solusi aritmatika'' mungkin ditemukan satu
hari ketika ia menulis: Mungkin orang lain yang datang setelah kami mungkin
menemukan itu dalam kasus ini, bila ada tidaknya yang pertama tiga kelas
kekuatan yang di kenal, yaitu jumlah, hal dan alun-alun.
Para
"orang lain yang datang setelah kami" dalam kenyataannya Del Ferro,
Tartaglia dan Ferrari di abad ke-16, juga dalam buku aljabarnya, Khayyam
mengacu ke karya-nya sekarang hilang. Ketika kehilangan pekerjaannya itu,
Khayyam membahas segitiga Pascal namun dia bukanlah orang pertama yang
melakukannya sejak al-Karaji membahas segi tiga Pascal sebelum ini. Bahkan
dapat diyakinkan bahwa Khayyam menggunakan metode untuk menemukan akar ke-n
berdasarkan ekspansi binomial dalam koefisien binomial. Ini mengikuti dari
bagian berikut dalam buku aljabarnya: Orang-orang Indian memiliki metode untuk
menemukan sisi kotak dan cubes berdasarkan pengetahuan tersebut dari kotak dari
sembilan angka, yang merupakan kuadrat dari 1, 2 3, dan lain-lain dan juga
produk yang di bentuk dengan mengalihkan mereka dengan satu sama lain, yaitu
produk dari 2, 3 dan lain-lain. Saya telah menyusun sebuah karya untuk
menunjukkan keakuratan metode ini, dan telah membuktikan bahwa mereka mengarah
pada tujuan yang di cari. Saya telah apalagi meningkatkan spesies, yang adalah
saya telah menunjukkan bagaimana untuk menemukan sisi-sisi persegi-persegi,
Quatro-kubus, kubus Cubo-, dan lain-lain untuk setiap panjang, yang belum
dilakukan sebelum sekarang, bukti saya berikan pada kesempatan ini adalah bukti
aritmatika hanya berdasarkan ilmu hitung bagian dari Euclid's
"Elemen".
Dalam
komentar mengenai dalil-dalil yang sulit dalam buku Euclid Khayyam membuat
kontribusi untuk non-euclidean geometri, meskipun ini bukan niatnya. Dalam
mencoba untuk membuktikan postulat kesejajaran dia sengaja membuktikan properti
dari angka di non-euclidean geometri. Khayyam juga memberikan hasil penting
pada rasio dalam buku ini, memperpanjang pekerjaan Eublid untuk memasukkan
perkalian rasio. Pentingnya kontribusi Khayyam adalah bahwa dia memeriksa
dengan baik definisi Euclid mengenai persamaan rasio [yang adalah bahwa pertama
kali diusulkan oleh Eudoxus] dan definisi kesetaraan rasio seperti yang
diusulkan sebelumnya matematikawan Islam seperti Al-Mahani yang didasarkan pada
terus fraksi. Khayyam membuktikan bahwa dua definisi ini setara. Dia juga
mengajukan pertanyaan apakah rasio dapat di anggap sebagai nomor? Tetapi
meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab.
UMAR
KHAYYAM SANG ASTRONOM
Toghril
Beg, pendiri dinasti Seljuk, telah membuat Esfahan ibukota wilayah kekuasaannya
dan cucunya Malik Syah adalah penguasa kota yang dari tahun 1073. Undangan
telah di kirim ke Khayyam dari Malik Syah dan dari-nya wazir Nizyam al-Mulk
meminta Khayyam untuk pergi ke Esfahan untuk mendirikan Observatorium di sana.
Astronom terkemuka lainnya juga dibawa ke Observatorium di Esfahan dan selama
18 tahun Khayyam memimpin para ilmuwan dan karya yang dihasilkan kualitas luar
biasa. Itu adalah masa damai selama situasi politik memungkinkan Khayyam
berkesempatan untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk bekerja ilmiah.
Selama
masa kepemimpinannya, Khayyam bekerja pada kompilasi tabel astronomi dan juga
memberikan kontribusi untuk reformasi kalender di tahun 1079 Masehi. Cowell
mengutip Review Calcutta Nomor 59: - Ketika Syah Malik bertekad untuk reformasi
kalender, Khayyam adalah salah satu dari delapan orang belajar bekerja untuk
melakukannya, hasilnya adalah era Jalali [sehingga di sebut dari Jalal-ud-din,
salah satu nama raja] - ''suatu perhitungan waktu," kata Gibbon, 'yang
melampaui Julian, dan pendekatan akurasi gaya Gregorian'.
Khayyam
mengukur panjang tahun sebagai 365,24219858156 hari. Terdapat dua komentar
mengenai hasil yang ditemukan Umar Khayyam ini:
Pertama,
itu menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa untuk mencoba memberikan hasil
dengan tingkat akurasi yang teliti. Kita tahu sekarang bahwa panjang tahun
berubah di tempat desimal keenam selama seumur hidup seseorang.
Kedua,
itu adalah luar biasa akurat. Untuk perbandingan panjang tahun pada akhir abad
ke-19 adalah 365,242196 hari, sementara hari ini adalah 365,2421990.
Sumber:
www.wikipedia.org
http://boegis.heck.in
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Sikap sopan santun adalah wajah budaya manusia Nusantara"