Tugas UAS
PASCA STAINU
JAKARTA
Mata Kuliah:
Teori-Teori Sosial Budaya
Dosen: Radhar Panca Dahana
Judul:
“MASYARAKAT BAHARI DALAM TINJAUAN
SOSIO-KULTURAL”
(Studi
Lapangan Masyarakat Bulungan Blok M Jakarta Selatan)
Oleh: Hasan
Basri (NIM: 160101237)

Sumber: Google
Penelitian lapangan yang telah penulis lakukan pada
hari Sabtu, 7 Januari 2017 di Kawasan Bulungan Blok M Jakarta Selatan dimulai
sejak Pukul 14.28 – 18.00 WIB. atau kurang lebih selama 3 jam 32 menit, dengan
tema penelitian “Masyarakat Bahari Dalam
Tinjauan Sosio-Kultural:
Studi Lapangan Masyarakat Bulungan Blok M Jakarta Selatan. Menemukan beberapa hal yang patut di jadikan suatu
kajian kritis dalam melacak keberadaan manusia bahari yang ada di Nusantara.
Namun sebelum saya memaparkan beberapa penemuan tersebut, terlebih dahulu saya
menampilkan beberapa ciri manusia bahari yang telah disebutkan oleh dosen
pengampu mata kuliah Teori-Teori Sosial BudayaYaitu Radhar Panca Dahana.
Ciri-ciri tersebut adalah:
- Sama (Egaliter/Equal)
- Saudara/persaudaraan/Gotong royong (Fraternity)
- Bebas (Free/Liberte)
- Terbuka (Open/Mind-Society)
- Multi Cultural
- Inter Cultural
- Acceptant
- Feminime
Kedelapan ciri-ciri tersebut menjadi
satu referensi saya dalam melakukan penelitian lapangan ini, sehingga dalam
mengidentifikasi objek penelitian dapat dilakukan dengan jelas mana yang
termasuk masyarakat bahari dan mana yang bukan. Namun yang menjadi masalah
adalah apakah masih ada masyarakat seperti ciri-ciri yang tersebut di atas, padahal
zaman ini telah berganti menjelma dengan segala perubahan dan pengaruhnya yang
bersifat globalisasi, westernisasi, dan modernisasi. Perihal semacam ini, yang telah mengubah pikiran dan batin
manusia dengan segala kepentingan-kepentingannya (Oportunis) dan sikap
pragmatisnya.
Penelitian ini dengan menggunakan tehnik
wawancara secara langsung kepada masyarakat yang menjadi sasaran atau objek
penelitian, seperti pedagang kaki lima, pengunjung, tukang parkir, pengamen,
satpam, pelayan, tukang ojek & masyarakat sekitar Bulungan Blok M Jakarta
Selatan.
Berlatar belakang dari perihal di atas,
saya mencoba untuk memaparkan hasil temuan saya selama proses pengamatan 3 jam
32 menit di Bulungan Blok M Jakarta Selatan tersebut. Paling tidak penulis
menemukan 6 poin yang menurut penulis adalah penting untuk di kaji lebih
mendalam berkaitan masyarakat bahari.
________________________
PROSES WAWANCARA
Dimulai dari sebuah wawancara ringan dengan seorang
bapak tua yang berusia 69 tahun. Sebut saja pak Hamid. Dia adalah seorang
pedagang mie ayam bakso yang terletak dipertigaan depan Plaza Blok M yang
berasal dari Gunung Kidul Jogjakarta. Profesinya ini telah ia geluti selama
hampir 25 tahun. Pak Hamid telah banyak
makan asam garam dari berbagai jenis pekerjaan dan perdagangan selama tinggal
di Ibu Kota. Pak Hamid telah merantau
dan menetap di kota Jakarta selama 40 tahun.
Kini ia telah memiliki 3 orang anak dan 4 orang cucu. Begitulah pemaparan
cerita dari pak Hamid.
Saya terkesan dengan cerita beliau, lebih-lebih
ketika beliau menjelaskan tentang suka dukanya dalam melewati gelombang
kehidupan di masa awal perantauannya. Berbagai tantangan dan hambatan
menghadang setiap langkah baiknya. Profesi yang saat ini ia geluti bukanlah
kali pertama melainkan puluhan dari profesi yang pernah ia coba. Tidak sedikit
ia mengalami berbagai kegagalan dan kebangkrutan, tapi begitulah sikapnya yang
rendah hati, tekun, ulet, dan yang tidak kalah penting adalah tekadnya yang
kuat, telah membuatnya mampu bertahan sampai pada saat ini.
Dari wawancara inilah saya mendapat satu inspirasi dan
pelajaran hidup dari orang kecil tapi berjiwa besar, dari orang biasa tapi
berhati mulia. Namun, saya tidak puas
sampai disini. Saya terus melanjutkan perjalanan untuk melakukan pengamatan terhadap
masyarakat yang lainnya, yaitu di sekitar Gor Bulungan sampai ke dalam mall
blok M Squer dan Plaza Blok M.
Pada
proses pengamatan selanjutnya, saya menemukan sebuah fakta yang jelas dan rill
bahwa masih ada masyarakat bahari. Penemuan ini saya dapatkan ketika saya
bersinggah dan bertemu dengan seorang pedagang gule. Pada awalnya saya berpikir
pedagang itu hanya beberapa saja tiga atau empat grobak, tapi setelah waktu
semakin sore tepatnya pkl. 16.40 WIB ternyata pedagang gule itu sangatlah
banyak. Jika saya tidak salah dalam menghitung jumlah tukang gule tersebut
yaitu mencapai 14 orang atau 14 grobak atau bisa jadi lebih dari itu. Yang
lebih menarik dan membuat saya tercengang adalah posisi mereka yang saling berdekatan
dan bahkan berdampingan. Lebih luar biasanya lagi, mereka dapat berjalan dengan
sangat damai dan aman. Pernyataan ini saya dapatkan dari perbincangan saya
dengan salah satu pedagang gule sebut saja mas fajar (21 tahun). Ia berdagang
gule baru 6 bulan, tapi menurutnya berdagang gule itu asyik, seru, dan banyak
kenalan. Betapa tidak, sepanjang saya duduk di tempatnya mas fajar, pembeli
tidak pernah sepi, selalu saja datang bahkan sampai mengantri untuk mendapatkan
tempat duduk yang telah disediakannya. Pembeli berasal dari sekitaran blok M
maupun sekitaran kota Jakarta bahkan tidak sedikit yang datang dari luar kota
diantaranya kota Tangerang, Bekasi, bahkan ada pula yang jauh-jauh dari kota Bogor
hanya untuk mencicipi gule masakan mas fajar.
Pelajaran yang saya dapatkan dari pengamatan yang
kedua ini adalah betapa pentingnya sebagai umat manusia untuk mengedepankan
sikap saling hormat menghormati, harga menghargai, dan sikap toleransi sehingga
terciptalah sebuah perdamaian, persaudaraan, persamaan, dan persatuan kesatuan
antar sesama umat manusia, tanpa melihat dan memperbesar perbedaan melainkan
melenturkan perbedaan itu dengan mencari titik persamaan. Karena seyogyanya
nabi Muhammad Saw. Di utus kemuka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak karimah
dan sebagai uswatun hasanah (teladan
atau contoh) bagi umat seluruh alam.
Pada menit-menit akhir tepatnya pada Pkl. 17.10 WIB
saya melanjutkan perjalanan berkeliling seputaran wilayah Gor Bulungan.
Disinilah saya bertemu dengan anak-anak pengamen, tukang parkir, anak-anak
tongkrongan, tukang ojek pangkalan, penjual asongan dan pengunjung yang sedang
menikmati berbagai fasilitas gelanggang olahraga tersebut.
____________________
_________________________________________________
HASIL TEMUAN
TENTANG MASYARAKAT BAHARI
_________________________________________________
Berlatar belakang dari hasil wawancara di atas, saya
mengamati dan menganalisis secara kritis dengan segala keterbatasan pada diri
peneliti. Saya akan coba menyajikan 6 pokok temuan yang menjadi pembahasan
berkaitan tentang masyarakat bahari. Perlu dicatat bahwa saya belum menemukan
karakteristik bahari yang sesungguhnya yang tampak pada diri seseorang yang
telah saya temui, namun paling tidak ada yang hampir mendekati atau mirip
dengan ciri-ciri masyarakat bahari yang telah di sebutkan di atas. Hal ini
mengapa bisa terjadi, dugaan saya sementara ini dikarenakan adanya proses
perubahan dan perkembangan zaman yang semakin modern, belum lagi dengan adanya
berbagai budaya globalisasi & westernisasi yang terus merajalela baik
melalui media elektronik, cetak, maupun pergaulan masyarakat secara langsung.
Hal itu yang telah mengubah karakteristik masyarakat cenderung menjadi oportunis dan pragmatis. Adapun untuk membuktikan kebenaran dari dugaan tersebut
diperlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam.
Berikut
adalah hasil temuan selama proses pengamatan dan penelitian lapangan
selama 3 jam 32 menit, yang berlangsung
secara baik dan kondusif di sekitar Gor Bulungan Blok M Jakarta Selatan yang
melalui tehnik wawancara dan pengamatan secara langsung oleh penulis, yaitu
diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Masyarakat Bahari
adalah masyarakat yang ramah tamah kepada siapapun.
Sikap ramah tamah merupakan satu sikap yang dimiliki
oleh masyarakat bahari yang mencerminkan tutur kata yang lembut dan andap asor (rendah hati). Jika
berhadapan dengan kawan bicaranya maka ia tidak menunjukan sikap sombong & angkuh,
Jika dihadapkan dengan masalah maka ia tidak terkontaminasi melainkan
senantiasa dihadapinya dengan ketenangan hati dan bersikap legowo (Menerima). Sikap inilah yang saya temui dari sesosok pak
Hamid seorang pedagang mie ayam bakso. Keramahannya dalam memberikan pelayanan
kepada konsumen terlihat jelas dan sangat menyenangkan hati.
2.
Masyarakat Bahari
adalah masyarakat yang kuat menjaga norma kesopanan
Setiap manusia akan selalu merindukan sebuah
lingkungan yang damai, aman dan sejahtera. Keadaan ini akan dapat dibentuk
dengan sikap dan etika yang baik, dan menjaga norma kesopanan. Oleh sebab itu,
manusia Bahari dalam kehidupannya senantia mengedepankan norma-norma kesopanan
dan juga nilai-nilai etika dan estetika, baik dalam lingkungan keluarga,
masyarakat, berbangsa dan bernegara.
3.
Masarakat Bahari
adalah masyarakat yang konsisten terhadap pekerjaan
Dilihat dari hasil wawancara bahwa pengamat
menemukan sebuah data yang menakjubkan, bahwa konsistensi masyarakat yang mangkal dagangannya di sekitaran
Bulungan blok M telah mencapai puluhan tahun lamanya. Pak hamid misalnya, ia
berdagang mie ayam bakso lebih dari 25 tahun, atau pedagang Gule yang sudah
mencapai 30 tahunan. Hal ini sejalan dengan filosofi orang jawa “Alon-alon waton kelakon” yang artinya
pelan-pelan yang penting kesampaian.
4.
Masyarakat
bahari adalah masyarakat yang suka berkumpul bersama dengan kehidupan sederhana
Kesederhanaan manusia berkarakter bahari dalam
menjalani kehidupannya dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi manusia yang
lainnya. Kendati demikian, masyarakat bahari juga memiliki kebiasaan yang
sangat unik yang disebut filosofi orang jawa “Makan gak makan asal kumpul” yang artinya meskipun kondisi dan
keadaan mereka yang hidup pas-pasan dan penuh kesederhanaan yang paling penting
adalah kebersamaan. Kebersamaan menurut mereka tidaklah bisa tergantikan dengan
hal yang lainnya.
Berkaitan dengan hal di atas, saya mengingat
masa-masa ketika mondok (belajar di
pesantren) dan saat berada di asrama mahasiswa. Suatu kebiasaan yang tidak bisa
di lewatkan ketika makan, walaupun ada piring, sendok, mangkok, ataupun
lainnya, seorang santri selalu menginginkan makan di atas daun pisang, atau tampah (Nampan), dengan formasi kaki satu dan tidak pernah menghiraukan
masalah lauk pauknya. Kaki satu adalah suatu istilah yang khas di kalangan
santri pada saat sedang makan bersama di atas tampah, daun pisang, atau nampan.
Hal itu dilakukan dengan tujuan agar ketika makan santri-santri bisa makan
bersama walaupun jumlah santri itu sangat bannyak. Nuansa ini adalah suatu hal
yang senantiasa di rindukan dan menjadi kenangan yang sulit untuk di lupakan.
5.
Masyarakat Bahari
adalah masyarakat yang suka merantau
Dari sekian banyak orang yang telah peneliti temui,
hampir jarang masyarakat pribumi yang asli (masyarakat betawi). Kebanyakan dari
mereka adalah perantau yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia,
diantaranya dari jawa, Sumatra, Kalimantan, papua, Sulawesi, aceh, dan lain
sebagainnya. Dari sinilah, peneliti memunculkan satu kesimpulan sementara bahwa
masyarakat bahari adalah masyarakat yang menyukai perantauan. Ia tidak suka
hidup di satu tempat, ia menginginkan pengalaman dan kehidupan yang bebas, dalam
artian bebas namun tetap patuh terhadap norma-norma social, agama, dan hukum
Negara.
6.
Masyarakat
Bahari adalah masyarakat yang ulet dan pekerjaan keras.
Sikap
ulet dan kerja keras telah menjadi prinsip manusia Bahari dalam melakukan suatu
pekerjaan baik sebagai pengusaha, pedagang, pebisnis, nelayan, petani, dan lain
sebagainya. Hal itu dapat terlihat dalam kesehariannya yang pantang menyerah,
penuh semangat, tidak peduli berapa penghasilan atau upah yang ia dapat,
melainkan lebih mengutamakan kinerja yang maksimal dan total. Sikap ini
berbanding terbalik dengan manusia kontinental, yang dalam melakukan
pekerjaannya selalu di ukur dengan keuntungan besar dan banyaknya upah yang ia
dapat.
______________
KESIMPULAN
______________
Manusia Bahari merupakan suatu konsep kehidupan yang
harus dipublikasikan secara komprehensif kepada seluruh masyarakat Indonesia
bahkan kepada masyarakat dunia sebagai upaya untuk menanggulangi krisis moral
yang berkepanjangan, peperangan yang tidak kunjung berkesudahan, kekacauan yang
tiada terhentikan, dan krisis kebudayaan yang pada saat ini keruh dan lemah
akibat dari westernisasi, modernisasi, dan globalisasi. Konsep manusia bahari
bagaikan mata air yang jernih yang dapat menyegarkan dan menghilangkan dahaga
umat manusia.[]
-()-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Sikap sopan santun adalah wajah budaya manusia Nusantara"