MENU

▼

Selasa, 07 Maret 2017

Teori-Teori Sosial Budaya: Masyarakat Bahari Dalam Tinjauan Sosio Kultural

 Tugas UAS
PASCA STAINU JAKARTA
Mata Kuliah: Teori-Teori Sosial Budaya
Dosen: Radhar Panca Dahana

Judul:
“MASYARAKAT BAHARI DALAM TINJAUAN SOSIO-KULTURAL”
(Studi Lapangan Masyarakat Bulungan Blok M Jakarta Selatan)
Oleh: Hasan Basri (NIM: 160101237)


Sumber: Google
          Penelitian lapangan yang telah penulis lakukan pada hari Sabtu, 7 Januari 2017 di Kawasan Bulungan Blok M Jakarta Selatan dimulai sejak Pukul 14.28 – 18.00 WIB. atau kurang lebih selama 3 jam 32 menit, dengan tema penelitian “Masyarakat Bahari Dalam Tinjauan Sosio-Kultural: Studi Lapangan Masyarakat Bulungan Blok M Jakarta Selatan. Menemukan beberapa hal yang patut di jadikan suatu kajian kritis dalam melacak keberadaan manusia bahari yang ada di Nusantara. Namun sebelum saya memaparkan beberapa penemuan tersebut, terlebih dahulu saya menampilkan beberapa ciri manusia bahari yang telah disebutkan oleh dosen pengampu mata kuliah Teori-Teori Sosial BudayaYaitu Radhar Panca Dahana. Ciri-ciri tersebut adalah:
  1.      Sama (Egaliter/Equal)
  2.       Saudara/persaudaraan/Gotong royong (Fraternity)
  3.       Bebas (Free/Liberte)
  4.       Terbuka (Open/Mind-Society)
  5.       Multi Cultural
  6.       Inter Cultural
  7.       Acceptant
  8.       Feminime
Kedelapan ciri-ciri tersebut menjadi satu referensi saya dalam melakukan penelitian lapangan ini, sehingga dalam mengidentifikasi objek penelitian dapat dilakukan dengan jelas mana yang termasuk masyarakat bahari dan mana yang bukan. Namun yang menjadi masalah adalah apakah masih ada masyarakat seperti ciri-ciri yang tersebut di atas, padahal zaman ini telah berganti menjelma dengan segala perubahan dan pengaruhnya yang bersifat globalisasi, westernisasi, dan modernisasi. Perihal semacam ini, yang telah mengubah pikiran dan batin manusia dengan segala kepentingan-kepentingannya (Oportunis) dan sikap pragmatisnya.
Penelitian ini dengan menggunakan tehnik wawancara secara langsung kepada masyarakat yang menjadi sasaran atau objek penelitian, seperti pedagang kaki lima, pengunjung, tukang parkir, pengamen, satpam, pelayan, tukang ojek & masyarakat sekitar Bulungan Blok M Jakarta Selatan.
Berlatar belakang dari perihal di atas, saya mencoba untuk memaparkan hasil temuan saya selama proses pengamatan 3 jam 32 menit di Bulungan Blok M Jakarta Selatan tersebut. Paling tidak penulis menemukan 6 poin yang menurut penulis adalah penting untuk di kaji lebih mendalam berkaitan masyarakat bahari.

________________________
PROSES WAWANCARA
________________________
Dimulai dari sebuah wawancara ringan dengan seorang bapak tua yang berusia 69 tahun. Sebut saja pak Hamid. Dia adalah seorang pedagang mie ayam bakso yang terletak dipertigaan depan Plaza Blok M yang berasal dari Gunung Kidul Jogjakarta. Profesinya ini telah ia geluti selama hampir 25 tahun. Pak Hamid  telah banyak makan asam garam dari berbagai jenis pekerjaan dan perdagangan selama tinggal di Ibu Kota. Pak Hamid  telah merantau dan menetap di kota Jakarta selama 40  tahun. Kini ia telah memiliki 3 orang anak dan 4 orang cucu. Begitulah pemaparan cerita dari pak Hamid.
Saya terkesan dengan cerita beliau, lebih-lebih ketika beliau menjelaskan tentang suka dukanya dalam melewati gelombang kehidupan di masa awal perantauannya. Berbagai tantangan dan hambatan menghadang setiap langkah baiknya. Profesi yang saat ini ia geluti bukanlah kali pertama melainkan puluhan dari profesi yang pernah ia coba. Tidak sedikit ia mengalami berbagai kegagalan dan kebangkrutan, tapi begitulah sikapnya yang rendah hati, tekun, ulet, dan yang tidak kalah penting adalah tekadnya yang kuat, telah membuatnya mampu bertahan sampai pada saat ini.
Dari wawancara inilah saya mendapat satu inspirasi dan pelajaran hidup dari orang kecil tapi berjiwa besar, dari orang biasa tapi berhati mulia.  Namun, saya tidak puas sampai disini. Saya terus melanjutkan perjalanan untuk melakukan pengamatan terhadap masyarakat yang lainnya, yaitu di sekitar Gor Bulungan sampai ke dalam mall blok M Squer dan Plaza Blok M.
            Pada proses pengamatan selanjutnya, saya menemukan sebuah fakta yang jelas dan rill bahwa masih ada masyarakat bahari. Penemuan ini saya dapatkan ketika saya bersinggah dan bertemu dengan seorang pedagang gule. Pada awalnya saya berpikir pedagang itu hanya beberapa saja tiga atau empat grobak, tapi setelah waktu semakin sore tepatnya pkl. 16.40 WIB ternyata pedagang gule itu sangatlah banyak. Jika saya tidak salah dalam menghitung jumlah tukang gule tersebut yaitu mencapai 14 orang atau 14 grobak atau bisa jadi lebih dari itu. Yang lebih menarik dan membuat saya tercengang adalah posisi mereka yang saling berdekatan dan bahkan berdampingan. Lebih luar biasanya lagi, mereka dapat berjalan dengan sangat damai dan aman. Pernyataan ini saya dapatkan dari perbincangan saya dengan salah satu pedagang gule sebut saja mas fajar (21 tahun). Ia berdagang gule baru 6 bulan, tapi menurutnya berdagang gule itu asyik, seru, dan banyak kenalan. Betapa tidak, sepanjang saya duduk di tempatnya mas fajar, pembeli tidak pernah sepi, selalu saja datang bahkan sampai mengantri untuk mendapatkan tempat duduk yang telah disediakannya. Pembeli berasal dari sekitaran blok M maupun sekitaran kota Jakarta bahkan tidak sedikit yang datang dari luar kota diantaranya kota Tangerang, Bekasi, bahkan ada pula yang jauh-jauh dari kota Bogor hanya untuk mencicipi gule masakan mas fajar.
Pelajaran yang saya dapatkan dari pengamatan yang kedua ini adalah betapa pentingnya sebagai umat manusia untuk mengedepankan sikap saling hormat menghormati, harga menghargai, dan sikap toleransi sehingga terciptalah sebuah perdamaian, persaudaraan, persamaan, dan persatuan kesatuan antar sesama umat manusia, tanpa melihat dan memperbesar perbedaan melainkan melenturkan perbedaan itu dengan mencari titik persamaan. Karena seyogyanya nabi Muhammad Saw. Di utus kemuka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak karimah dan sebagai uswatun hasanah (teladan atau contoh) bagi umat seluruh alam.
Pada menit-menit akhir tepatnya pada Pkl. 17.10 WIB saya melanjutkan perjalanan berkeliling seputaran wilayah Gor Bulungan. Disinilah saya bertemu dengan anak-anak pengamen, tukang parkir, anak-anak tongkrongan, tukang ojek pangkalan, penjual asongan dan pengunjung yang sedang menikmati berbagai fasilitas gelanggang olahraga tersebut.
 ____________________
_________________________________________________
HASIL TEMUAN TENTANG MASYARAKAT BAHARI
_________________________________________________
Berlatar belakang dari hasil wawancara di atas, saya mengamati dan menganalisis secara kritis dengan segala keterbatasan pada diri peneliti. Saya akan coba menyajikan 6 pokok temuan yang menjadi pembahasan berkaitan tentang masyarakat bahari. Perlu dicatat bahwa saya belum menemukan karakteristik bahari yang sesungguhnya yang tampak pada diri seseorang yang telah saya temui, namun paling tidak ada yang hampir mendekati atau mirip dengan ciri-ciri masyarakat bahari yang telah di sebutkan di atas. Hal ini mengapa bisa terjadi, dugaan saya sementara ini dikarenakan adanya proses perubahan dan perkembangan zaman yang semakin modern, belum lagi dengan adanya berbagai budaya globalisasi & westernisasi yang terus merajalela baik melalui media elektronik, cetak, maupun pergaulan masyarakat secara langsung. Hal itu yang telah mengubah karakteristik masyarakat cenderung menjadi oportunis dan pragmatis. Adapun untuk membuktikan kebenaran dari dugaan tersebut diperlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam.
 Berikut adalah hasil temuan selama proses pengamatan dan penelitian lapangan selama  3 jam 32 menit, yang berlangsung secara baik dan kondusif di sekitar Gor Bulungan Blok M Jakarta Selatan yang melalui tehnik wawancara dan pengamatan secara langsung oleh penulis, yaitu diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Masyarakat Bahari adalah masyarakat yang ramah tamah kepada siapapun.
Sikap ramah tamah merupakan satu sikap yang dimiliki oleh masyarakat bahari yang mencerminkan tutur kata yang lembut dan andap asor (rendah hati). Jika berhadapan dengan kawan bicaranya maka ia tidak menunjukan sikap sombong & angkuh, Jika dihadapkan dengan masalah maka ia tidak terkontaminasi melainkan senantiasa dihadapinya dengan ketenangan hati dan bersikap legowo (Menerima). Sikap inilah yang saya temui dari sesosok pak Hamid seorang pedagang mie ayam bakso. Keramahannya dalam memberikan pelayanan kepada konsumen terlihat jelas dan sangat menyenangkan hati.
2.      Masyarakat Bahari adalah masyarakat yang kuat menjaga norma kesopanan
Setiap manusia akan selalu merindukan sebuah lingkungan yang damai, aman dan sejahtera. Keadaan ini akan dapat dibentuk dengan sikap dan etika yang baik, dan menjaga norma kesopanan. Oleh sebab itu, manusia Bahari dalam kehidupannya senantia mengedepankan norma-norma kesopanan dan juga nilai-nilai etika dan estetika, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara.
3.      Masarakat Bahari adalah masyarakat yang konsisten terhadap pekerjaan
Dilihat dari hasil wawancara bahwa pengamat menemukan sebuah data yang menakjubkan, bahwa konsistensi masyarakat yang mangkal dagangannya di sekitaran Bulungan blok M telah mencapai puluhan tahun lamanya. Pak hamid misalnya, ia berdagang mie ayam bakso lebih dari 25 tahun, atau pedagang Gule yang sudah mencapai 30 tahunan. Hal ini sejalan dengan filosofi orang jawa “Alon-alon waton kelakon” yang artinya pelan-pelan yang penting kesampaian.
4.      Masyarakat bahari adalah masyarakat yang suka berkumpul bersama dengan kehidupan sederhana
Kesederhanaan manusia berkarakter bahari dalam menjalani kehidupannya dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi manusia yang lainnya. Kendati demikian, masyarakat bahari juga memiliki kebiasaan yang sangat unik yang disebut filosofi orang jawa “Makan gak makan asal kumpul” yang artinya meskipun kondisi dan keadaan mereka yang hidup pas-pasan dan penuh kesederhanaan yang paling penting adalah kebersamaan. Kebersamaan menurut mereka tidaklah bisa tergantikan dengan hal yang lainnya.
Berkaitan dengan hal di atas, saya mengingat masa-masa ketika mondok (belajar di pesantren) dan saat berada di asrama mahasiswa. Suatu kebiasaan yang tidak bisa di lewatkan ketika makan, walaupun ada piring, sendok, mangkok, ataupun lainnya, seorang santri selalu menginginkan makan di atas daun pisang, atau tampah (Nampan), dengan formasi kaki satu dan tidak pernah menghiraukan masalah lauk pauknya. Kaki satu adalah suatu istilah yang khas di kalangan santri pada saat sedang makan bersama di atas tampah, daun pisang, atau nampan. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar ketika makan santri-santri bisa makan bersama walaupun jumlah santri itu sangat bannyak. Nuansa ini adalah suatu hal yang senantiasa di rindukan dan menjadi kenangan yang sulit untuk di lupakan.
5.      Masyarakat Bahari adalah masyarakat yang suka merantau
Dari sekian banyak orang yang telah peneliti temui, hampir jarang masyarakat pribumi yang asli (masyarakat betawi). Kebanyakan dari mereka adalah perantau yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, diantaranya dari jawa, Sumatra, Kalimantan, papua, Sulawesi, aceh, dan lain sebagainnya. Dari sinilah, peneliti memunculkan satu kesimpulan sementara bahwa masyarakat bahari adalah masyarakat yang menyukai perantauan. Ia tidak suka hidup di satu tempat, ia menginginkan pengalaman dan kehidupan yang bebas, dalam artian bebas namun tetap patuh terhadap norma-norma social, agama, dan hukum Negara.
6.      Masyarakat Bahari adalah masyarakat yang ulet dan pekerjaan keras.
Sikap ulet dan kerja keras telah menjadi prinsip manusia Bahari dalam melakukan suatu pekerjaan baik sebagai pengusaha, pedagang, pebisnis, nelayan, petani, dan lain sebagainya. Hal itu dapat terlihat dalam kesehariannya yang pantang menyerah, penuh semangat, tidak peduli berapa penghasilan atau upah yang ia dapat, melainkan lebih mengutamakan kinerja yang maksimal dan total. Sikap ini berbanding terbalik dengan manusia kontinental, yang dalam melakukan pekerjaannya selalu di ukur dengan keuntungan besar dan banyaknya upah yang ia dapat.

______________
KESIMPULAN
______________

Manusia Bahari merupakan suatu konsep kehidupan yang harus dipublikasikan secara komprehensif kepada seluruh masyarakat Indonesia bahkan kepada masyarakat dunia sebagai upaya untuk menanggulangi krisis moral yang berkepanjangan, peperangan yang tidak kunjung berkesudahan, kekacauan yang tiada terhentikan, dan krisis kebudayaan yang pada saat ini keruh dan lemah akibat dari westernisasi, modernisasi, dan globalisasi. Konsep manusia bahari bagaikan mata air yang jernih yang dapat menyegarkan dan menghilangkan dahaga umat manusia.[]

-()-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Sikap sopan santun adalah wajah budaya manusia Nusantara"