PENEBANG KAYU
Di sebuah desa, ada seorang penebang kayu, yang
dibayar Rp 30.000,- per hari oleh seorang pengusaha, untuk jasanya menebang
kayu. Setelah beberapa bulan bekerja, pengusaha merasa telah membayar penebang
kayu tersebut dengan harga yang semakin mahal, tetapi hasil tebangan kayunya
semakin menurun jumlahnya. Dengan negosiasi yang alot akhirnya penebang kayu
itu menerima penurunan upahnya menjadi Rp 20.000,- Waktu berselang enam bulan,
pengusaha tersebut berkembang usahanya, sehingga ia perlu menambah satu orang
penebang kayu lagi. Sama dengan penebang kayu yang pertama, penebang kayu kedua
juga dibayar Rp 20.000,- per hari. Setelah satu bulan, pengusaha tersebut
menaikkan upah harian penebang kayu kedua, tetapi tidak menaikkan upah penebang
kayu yang pertama. Tentu saja penebang kayu yang pertama protes. Bagaimana
mungkin seorang pekerja yang baru satu bulan upahnya sudah dinaikkan, tetapi
pekerja yang sudah bekerja tujuh bulan, gajinya tidak dinaikkan bahkan
diturunkan.
Ternyata pengusaha itu mempunyai alasan yang cukup
kuat. Penebang kayu yang kedua, mampu mempertahankan produktivitasnya. Setiap
hari, ia mampu menebang kayu yang jumlahnya relatif sama setiap hari. Lain
halnya dengan penebang kayu yang pertama. Sejak awal ia bekerja, sampai masa
kerjanya tujuh bulan, hasil tebangan kayunya semakin menurun dari hari ke hari.
Penebang kayu yang pertama tidak percaya dengan
data yang diberikan oleh si pengusaha. Untuk itu, ia minta hasil tebangan
masing-masing dikumpulkan pada lokasi yang berbeda, sehingga ia bisa melihat
dan membuktikan bahwa hasil tebangan penebang kayu yang pertama memang lebih
banyak jumlahnya daripada hasil tebangannya.
Pengusaha setuju dengan permintaan penebang kayu yang pertama. Ia memberi waktu
satu minggu bagi penebang kayu yang pertama untuk melakukan apa yang
dimintanya. Setelah satu minggu, akhirnya si penebang kayu yang pertama bisa
membuktikan bahwa hasil tebangan penebang kayu yang kedua lebih banyak daripada
hasil tebangannya sendiri.
Selanjutnya, pengusaha menyarankan agar penebang
kayu pertama belajar dan menanyakan resep sukses penebang kayu kedua dalam
mempertahankan produktivitasnya. Saran itu diikuti oleh penebang kayu.
Datanglah ia kepada penebang kayu kedua. Ia bertanya banyak hal. Ia melihat
bagaimana penebang kayu kedua. Satu hal yang menurutnya bisa menjaga
konsistensi produksi penebang kedua, adalah bahwa dalam waktu satu hari,
penebang kayu kedua mengambil waktu istirahat dua kali, yaitu pada tengah hari
dan ketika sore hari. Sebenarnya ia juga beristirahat pada waktu yang sama,
tetapi apa yang dilakukan pada saat istirahat itu, benar-benar berbeda.
Penebang kayu pertama, ketika beristirahat memang benar-benar beristirahat,
makan dan minum. Tetapi penebang kayu kedua, selain makan, minum dan istirahat,
ia juga mengasah kapaknya. Dan mengasah kapak, adalah bagian esensial yang
menyebabkan penebang kayu kedua mampu mempertahankan produktivitasnya.
Dunia ini selalu berubah. Setiap hari selalu saja
keluar penemuan-penemuan baru, cara-cara baru, dan mengharuskan kita untuk
beradaptasi dengan perubahan itu. Pengalaman kami selama ini menunjukkan bahwa
bukan yang terkuat yang bisa bertahan hidup, bukan yang terbesar ataupun yang
terbuas. Makhluk yang mampu bertahan hidup adalah makhluk yang mampu
beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya.
Itulah sebabnya, asah kapak anda. Lakukan sesuatu
yang berbeda dalam cara anda menjual, sehingga hasil yang anda peroleh pun akan
berbeda. Coba identifikasi apa yang sudah anda lakukan, dan analisis hasilnya.
Setelah itu, lakukan perubahan pada satu atau dua hal dari cara yang anda
lakukan, kemudian analisis kembali hasilnya. Kalau hasilnya lebih buruk, ubah
lagi caranya. Kalau hasilnya baik, lakukan terus perubahan ke arah yang lebih
baik, sampai tujuan anda tercapai.
Mudah-mudahan ada manfaatnya. Semoga Allah
mengabulkan keinginan anda.
SALAM SAHABAT HEBAT
"WHERE THERE IS A WILL, THERE IS A WAY"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar