Selasa, 25 Februari 2014

PEMOTONG KAYU YANG JUJUR

Pemotong Kayu Yang Jujur
Tersebutlah kisah nun jauh di pedalaman, tinggalnya seorang pemotong kayu yang tua dan miskin. Adapun kemampuannya hanyalah mencari rezeki dengan menebang kayu yang sederhana besarnya untuk dijual sebagai kayu api. Hanya isterinyalah peneman hidup setiap  hari tanpa dikurniakan anak.

Pada suatu pagi.......Pergilah si tua tersebut jauh ke hutan untuk menebang kayu  untuk dibuat kayu api. Tidak seperti kebiasaannya, kali ini si isteri tidak dapat menemani si suami kerana sakit.

Maka ke hutanlah si tua seorang diri  pagi pagi sekali,  sebelum terbit matahari  untuk mencari kayu api. Seharianl  si tua menebang kayu  dengan kapak besinya yang telah tua setua  usianya. Meskipun lelah, tidak jua dia berhenti.....

Tiba-tiba... genggamannya semakin lemah kemudian terlepaslah kapak kesayangan dari tangannya dan tercebur kedalam sungai yg dalam. Menangis sayu  si tua karena  kehilangan kapak yang menjadi penopang  rezekinya ... hendak terjun mencari takut disambar arus... merataplah ia mengenangkan nasib...

Peri-peri dilangit begitu terenyuh  melihat kegundahan si tua tersebut.... lalu turunlah ia menemui si tua dan bertanya... “wahai orang tua... kenapa bersedih hatii ?”

Dengan nada perasaan takut dan terkejut, situa berusaha menceritakan apa yang telah terjadi,

“Baiklah..akan kubantu mencari kapak engkau yang tenggelam”. lalu dengan serta merta terjunlah si peri  ke dalam sungai.... selang beberapa menit, timbullah kembali si peri sambil mebawa kapak emas lalu dihulurkanya  kepada situa.... Dengan sedih situa menjawab,   "Bukan,  ini bukan kepunyaan hamba...tidak mampu hamba memiliki kapak emas ini”.
Lalu terjunlah sekali lagi si peri  ke dalam sungai dan timbul kembali bersama kapak perak. Tidak jua mengaku si tua karena  itu bukan kapak miliknya. Sekali lagi si peri  terjun lalu membawa  kapak perunggu. Tidak juga si tua itu menerimanya sehinggalah si peri membawakannya kapak besi yang telah tua.

Ketika situa melihat kapak itu, bahagialah hatinya, karena itulah kapak miliknya. Lalu si peri menyerahkan kapak tersebut kepada si tua. Sebagai balasan kejujuranya kapak emas, perak dan perunggu  turut dihadiahkan.

Pulanglah si tua dengan hati yang gembira. Sesampainya ke rumah lalu diceritakan kepada isterinya apa yang berlaku. Si isteri turut bergembira dengan kejujuran suaminya. Dan selang beberapa hari, sehatlah sang istri dari sakitnya. Kembali mereka berdua dapat mencari kayu bersama sama.

Namun begitu, pada suatu hari di musim panas..... turunlah keduanya ke dalam hutan mencari kayu. Dalam perjalanan, si isteri  tergelincir lalu terjatuh dan hilang di dalam sungai. Menangislah si tua akan kehilangan isterinya. Kejadian itu, kembali membuat si peri terenyuh hatinya..

Lalu bertanyalah si perii tentang  kesedihan si tua tersebut, maka diceritakanlah akan kesedihannya kehilangan si isteri. Lalu tanpa meunggu lagi,  terjunlah si peri  ke dalam sungai...

Selang bebarapa menit timbul lah si peri sambil membopong  siti nurhaliza dan bertanya kepada si tua tersebut. “Inikah isterimu…?”,  Lantas si tua tersebut mengakuinya.." Ya..ya betul... inilah isteri hamba...”

Mendengarkan pengakuan yang tidak jujur tersebut..maka marahlah si pari-pari... “Pembohong.... ini bukanlah isterimu...!!”... belum habis si pari-pari berkata lalu si tua menyela, “Sabar...sabar.... ini sebenarnya adalah salah faham.... bukan niat hamba berbuat demikian…”,  dengan nada sayu si tua meneruskan kata-katanya, “Hamba khawatir  jika hamba tidak mengakuinya..maka tuan peri  akan terjun kembali kesungai  beberapa kali lagi sambil membawa Siti Nurdiana, Maya Karin dan Pamela Anderson, sedangkan hamba ini hanya lah si tua yang miskin tidak mampu memiliki kesemua mereka ini.....".



Tidak ada komentar: